RSS

Dialog Dengan Jin Muslim : Mungkinkah Melihat Jin, Dan Bagaimana Pula Caranya?

24 Feb

Prinsipnya, melihat jin itu tidak bisa dilakukan, sepanjang jintersebut berada dalam sosoknya yang hakiki, dan tidak menyerupakan diridalam bentuk yang lain, yakni mengambil bentuk fisik-materiel, sekalipun hal itu sangat mungkin bisa dilakukan oleh para nabi sebagai suatu mukjizat, atau bagi orang yang dianugerahi oleh Allah kemampuan untuk itu. Juga bisasaja hal itu dilakukan oleh orang yang ditempatkan oleh Allah dalam suatu kondisi – tertentu yang memungkinkan dia dapat melakukannya, atauyang menempatkan dirinya dalam posisi tertentu yang memungkinkanterjadinya hal seperti itu.
Agar pembaca yang budiman tidak menuduh saya sebagai orang yang asal bicara, padahal sahabat Anda ini demi Allah adalah orang yang sangat menjauhi pembicaraan yang tidak berdasar dan bukan pula orang yangmengajak orang lain untuk percaya kepada khurafat, maka di sini saya akanmengemukakan bukti-bukti saya, dan mendiskusikan berbagai dalil syariat yang menyatakan ketidakmungkinan melihat jin, setelah terlebih dahulu sayakemukakan gambaran tentang sifat-sifat jin dan memperkenalkan beberapakemampuannya yang pernah diperlihatkan kepada saya melalui anugerahAllah.
Persepsi yang Keliru
Kadang-kadang banyak orang tidak memahami bahwa jin_merasa prihatindengan persepsi-persepsi keliru yang berkembang tentang bentuk-bentuk mereka yang tersebar di dunia manusia.
Ketika saya bertanya kepada jin Muslim sahabat saya tentang bentuk jin, dia menjawab dengan pengertian seperti yang telah saya kemukakanterdahulu. Dia menambahkan bahwa, “Manusia seringkali secara kelirumeyakini tentang buruknya jin, dan bahwasanya bentuknya sangat menakutkan. la sekadar sosok yang membuat manusia menjadi takut: wajahnya tidak karuan, dan mempunyai ekor sebagaimana binatang, dan bahwa…, dan bahwa…. Semuanya tidak berdasar,dan semata-mata hanya merupakan perkiraan manusia.”
Saya berkata kepadanya: “Kadang-kadang jin itu sendirilah yangbertanggung jawab terhadap munculnya anggapan yang salah danburuk yang ada di pikiran manusia.”
- “Bagaimana mungkin bisa terjadi yang demikian?” tanyanya.
+ “Ya, karena adanya setan yang memperlihatkan diri dalambentuk yang demikian buruk dan menakutkan kepada seseorang,dengan maksud menakut-nakutinya atau karena maksud tertentu,” jawabsaya.
“Bisa jadi demikian,” katanya, “Akan tetapi, bagaimanapun,manusia telah melebih-lebihkan gambaran mereka tentang jin, danacap kali hal itu hanya merupakan kebohongan semata.18 Lebih dariitu, setan memang memiliki. sosok yang buruk, berbeda dari jin Mus-lim yang diberi bentuk yang baik oleh Allah.”
Bentuk dan Sosok jin
“Kalau begitu,” kata saya, “Mari kita luruskan persepsi dan pikiranmereka. Nah, bagaimana sebenarnya bentuk hakikimu seperti yangdiciptakan Allah?”*
“Menurut hemat saya, bentuk kami seperti yang diciptakan AllahSWT, tidaklah banyak berbeda dari bentuk manusia, kecuali beberapaperbedaan kecil di sana-sini. Kepala kami, misalnya, sedikit lebih besardalam bandingannya dengan tubuh kami, bila dibandingkan denganperbandingan kepala’dan tubuh kalian. Mata kami memanjang dantidak bulat seperti mata kalian. Di antara kami ada yang mempunyaimata memanjang arah ke atas, dan ada pula yang sedikit miring kearah dahi, mirip mata lazimnya. orang-orang Cina atau Jepang dikalangan kalian. Ada yang perlu dicatat. Yakni, mata kami tidak sipitseperti mata manusia, tetapi lazimnya besar dan lebar seperti mata rusa,namun dengan bentuk yang memanjang.”
+ “Selama ini ada anggapan bahwa mata kalian selamanyamerah,” kata saya, “Apakah benar begitu?”
– “Tidak selamanya demikian,” jawabnya, “Mata kami, sebagai-mana halnya dengan mata manusia, banyak sekali macamnya. Adamata yang berwarna hitam, kuning, coklat tua, persis seperti matamanusia, sekalipun hitamnya berbeda dengan hitamnya mata kalian.Mata hitam kami cenderung keputih-putihan. Anggapan bahwa matakami selalu merah, bisa jadi diakibatkan oleh adanya sinar-sinar halus yang memancar dari mata kami, yakni sinar yang selamanya cenderungberwarna merah. la tidak menakutkan bagi siapa yang menatapnya,bahkan di situ terdapat suatu keindahan.”
“Sedangkan telinga kami,” lanjutnya, “dua-duanya mirip telinga kuda, khususnya dalam hal bentuknya yang runcing. Ada pula di antarakami yang telinganya mirip telinga kucing. Kalau manusia mengamatisecara cermat, telinga kucing, sesungguhnya, juga mirip dengan telinga kuda. Karena itu, kalau ada di antara kami yang berbicara danmenyerupakan diri dalam bentuk-bentuk tertentu, maka yang palingmereka sukai adalah kucing, kuda, atau harimau.”19
“Soal hidung,” paparnya lebih lanjut, “maka hidung kami terletakdi tengah-tengah wajah kami. Persis seperti hidung manusia. Hanyasaja ia tidak mancung seperti hidung kalian. Lazimnya hidung kamipesek atau bulat, mirip hidung laki-laki dan wanita Filipina.”
“Jin Muslim memanjangkan jenggotnya, karena mengikuti pe-tunjuk Nabi Muhammad saw. Terhadap mereka yang wajahnya tidakberjenggot, kami sebut wajahnya dengan ‘wajah gentong’.”
Rambut kepala kami sangat tebal, dan lebih tebal lagi pada kaumwanita jin. Di kalangan kaum laki-laki, rambut kami terasa lebih kasar,dan dalam skala besar lebih banyak yang botak. Rambut kaum wanita,bagi kami, sangat, sangat panjang. Dan itu, merupakan lambang ke-cantikan. Sampai-sampai ada di antara mereka yang rambutnya terseretdi tanah saking panjangnya.”
+ “Bagaimana tentang tangan dan kaki kalian?”
-
“Tangan tangan kami seperti tangan kalian. Cuma, dari segi panjanglengan dan kuku, agak berbeda. Lengan kami, dalam bandingannyadengan tubuh kami, terbilang sangat panjang, bila dibandingkan

dengan lengan kalian terhadap tubuh kalian. Demikian pula halnya dengankuku-kuku kami. Sebab, jari-jari kami pun panjang-panjang. Sedangkan kaki kami, berbeda dengan kaki kalian dalam hal letak tumit dan keruncingan jari-jarinya.”

+ “Apakah kalian juga punya tulang, jantung, organ pernapasan dan pencernaan?”"

- “Ya, persis seperti kalian, sekalipun tulang kami, dibandingkan dengan kulit atau daging kami, terbilang besar. Sekarang ini, kami memilikikelenturan yang tak mungkin bisa kalian bayangkan. Organ-organ kami yang selebihnya, terbilang kecil-kecil. Semuanya berfungsi seperti tubuh kalian, sekalipun kami tidak membutuhkan oksigen untuk bernapas sebanyakyang kalian butuhkan. Begitu pula dengan alat pencernaan yang mencernasegala yang kami makan. Sisa-sisa pencernaan kami juga keluar darilubang-lubang pencernaan seperti yang kalian ‘alami, sekalipun kotorankami tidak berbentuk kasar, melainkan lebih mirip dengan uap yang sangatpekat. Sedangkan air kencing, juga berbentuk gas yang sangat kuattekanannya, tetapi sangat ringan dan mirip aliran air mancur di kalangankalian. Itu sebabnya, maka ada setan yang bisa mengencingi telinga seorangMuslim yang ketika tidur tidak menyebut asma Allah,”20 dan yang di malam harinya tidak pernah berniat untuk menunaikan kewajiban kepada Allah, Tuhan semesta alam.”
+ “Apakah kalian punya alat kelamin?”
– “Persis seperti manusia. Hanya saja terbilang kecil bila di-bandingkan dengan yang ada pada kalian, dan dalam bandingannya dengan tubuh kami. Kaum laki-laki kami seperti kaum laki-laki kalian. Mereka punya dorongan birahi dan kemampuan untuk bersenggama, dan mengeluarkan sperma. Wanitanya pun seperti kaum wanita kalian. Mereka mernpunyai selaput dara yang pecah ketika terjadi hubungan seksual. Suatu bentuk kehidupan yang, wahai saudaraku, betul-betul kehidupan biasa.”
+ “Kembali pada persoalan kepala. Nabi pernah berkata, ‘Sesung- guhnya matahari, ketika terbit, ia membawa tanduk setan. Ketika la naik, dilepaskannya tanduknya. Kemudian ketika la tepat di tengah ufuk, dikenakannya kembali tanduknya. Namun ketika tergelincir tanduk itu ditanggalkannya, untuk kemudian dikenakannya lagi ketika ia mendekati tenggelam. Ketika betul-betul tenggelam, tanduk itu ditanggalkannya. Karena itu, janganlah kalian shalat pada tiga waktu tersebut.’21 Beliau juga mengatakan, ‘Sesungguhnya matahari terbit di antara dua tanduk setan, dan tenggelam di antara dua tanduk setan pula.”22 Seterusnya beliau juga mengatakan janganlah kalian mendekatkan shalat kalian dengan waktu terbit dan tenggelamnya mata-hari. Sebab, ia terbit di antara dua tanduk setan, dan tenggelam diantara dua tanduk setan pula.23 Kalau demikian, apakah setan atau jin mempunyai tanduk dalam bentuk nyata, ataukah itu hanya me-rupakan kiasan saja?”*

“Itu adalah ucapan Muhammad saw., dan dia mengatakan yangbenar. Setiap jin punya dua tanduk. Tetapi kedua tanduk tersebutsangat kecil, bahkan bila dibandingkan dengan tubuh kami yang kecil ini
+ “Apakah itu berarti engkau juga punya dua tanduk?”
−”Ya, ya…. Akan tetapi sangat kecil, seperti huruf “Nun”; kecil, kecil sekali, dan tidak panjang seperti yang digambarkan manusia.”
+”Apakah tanduk Iblis kecil atau besar?”
−”Besar, sesuai dengan tubuhnya. Iblis sangat tua usianya, jauhlebih tua daripada manusia yang pertama. Kami adalah makhluk-makhluk yang bertubuh lemah, seperti tubuh manusia yang mengalamiproses kelemahan sejalan dengan perjalanan waktu.”
+”Tentang warna kulit kalian, bagaimana?”
−”Berbeda-beda seperti kalian. Akan tetapi galibnya kami lebihhitam daripada manusia yang berkulit hitam. Sebab, kulit kami hitampekat dan melekat dengan daging kami, sebagaimana halnya dengankulit dan daging-kalian. Warnanya mirip dengan warna kerbau kalian.Hanya saja sangat tebal bulunya, seperti orang yang paling tebal bulu-nya di antara kalian. Di antara kami ada jin-jin yang lebih tebal lagibulunya. Juga ada yang putih,24 dan merah. Subhanallah, banyak sekaliwarnanya.

+
“Apa kalian juga berpakaian?”



“ya…. Kami mengenakan pakaian yang berbeda-beda danindah-indah. Kaum wanitanya mengenakan pakaian yang sesuaidengan kewanitaannya: yang Muslimah mengenakan kerudung ataujilbab seperti kaum wanita kalian. Akan tetapi saya lebih menekankanjubah, sebab la lebih dekat dengan firman Allah yang berbunyi, Hendaklahmereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka (QS. Al-Ahzab: 59). Kaumlaki-lakinya mengenakan pakaian yang sesuai, lazimnya semacamkemeja. Sebagian besar jin menyukai warna merah, kemudiankuning, dan selanjutnya hitam.”
+
“Bagaimana dengan lidahmu yang sekarang berkata-kata ini,apakah ia betul-betul lidah, ataukah kalian berbicara dengan cara yangtidak kami ketahui?”

“Tidak, tidak. Ini betul-betul lidah dan bukan sekadar kiasan.Akan tetapi sangat kecil, sesuai dengan kecilnya tubuh kami. Singkat-nya, kami juga mempunyai organ-organ seperti kalian, segalanya,segalanya seperti kalian.”
+
“Juga punya gigi?”

“Tentu saja. Hanya saja bila dibandingkan dengan tubuh kami,ia terbilang panjang, atau besar, dibandingkan dengan gigi kalianterhadap tubuh kalian.”
+
“Kendati begitu, kami tetap tidak bisa melihat kalian?”

“Ya, wajar saja. Sebab, asal kami adalah api yang bersifat gasyang ringan, sekalipun dalam kondisi-kondisi tertentu kami bisa di-lihat. “
+
“Kondisi yang bagaimana?”

“Ya, ketika kami menampakkan diri dalam bentuk fisik danmateri”25 atau dalam kondisi sihir atau ketika seseorang minum air sihir.

Atau, bisa saja, melalui kemauan Jin itu sendiri, dan dalam kondisi-kondisi lain yang tidak bisa tidak, kami pasti bisa dilihat.”26
+
“Apa yang kalian kenakan di kaki kalian? Apakah kalian ber-jalan dengan telanjang kaki, atau mengenakan sepatu atau terumpah?”

“Ya, ya, ada sesuatu yang kami kenakan. Tetapi berbeda antara jin Muslim dengan jin setan.”
+
“Apa bedanya?”

“Kalau jin setan, mengenakan satu terumpah di kaki kirinya,27 sedang kaki kanannya dibiarkannya telanjang.”
+
“Kalau yang Muslim?”

“Tidak seperti itu. Alhamdulillah, aku mengenakan dua terum-pah di dua kakiku.”
+
“Terbuat dari apa terumpah kalian?”

“Terbuat dari daun papirus.”
+
“Daun papirus biasa, yakni daun yang digunakan sebagai alattulis oleh para Fir`aun, ataukah daun papirus lain yang kalian tanamdan tidak kami lihat?”

“Tidak, ya daun papirus yang itu-itu juga. Akan tetapi, biasanyasangat kecil, sesuai dengan kecilnya tubuh kami. Apalagi ia kami kena-kan demikian rupa, sehingga ia mengikuti kekhususan-kekhususan kami, sehingga tidak bisa dilihat oleh siapa pun.”
Pada Prinsipnya, Jin Tidak Bisa Dilihat Allah Yang Maha agung berfirman, Wahai anak Adam, janganlahsekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana dia telah mengeluarkankedua ibu-bapakmu dari surga. Dia menanggalkan dari keduanya pakaiannyauntuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya dia danpengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempest yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itupemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman (QS. Al-A’raf: 27).
Imam Al-Qurthubi, dalam menafsirkan ayat ini, mengatakan bahwasebagian ulama berpendapat bahwa dalam ayat im terdapat dalil bahwaJin itu tidak bisa dilihat, berdasarkan firman Allah yang berbunyi, darisuatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Akan tetapi sebagianiainnya mengatakan bisa. Sebab, jika Allah menghendaki memperlihat-kan mereka, maka Dia menampakkan tubuh mereka, sehingga dapatdilihat. An-Nuhhas mengatakan bahwa firman Allah yang berbunyi,dari tempat yang kahan tidak dapat melihat mereka, menunjukkan bah-wa Jin itu tidak bisa dilihat, kecuali pada masa Nabi. Sebab, hal itumerupakan bukti kenabian beliau. Yang demikian itu disebabkankarena Allah SWT menciptakan mereka dalam bentuk ciptaan yangmemang tidak bisa dilihat. Akan tetapi ketika mereka dialihkan dartbentuknya yang asli, dan yang demikian itu hanya merupakan mukjizatpada masa para nabi, maka mereka bisa dilihat. Al-Qusyairi mengata-kan, “Allah SWT memberlakukan adat bahwa anak-cucu Adam tidakdapat melihat setan sekarang ini (di dunia), dan dalam sebuah riwayatdisebutkan, ‘Setan berjalan dalam tubuh anak-cucu Adam bersamaandengan aliran darah. ”28
Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Manaqib Asy-Syafi’i, dengan sanaddart Ar-Rabi’, katanya, “Saya mendengar Asy-Syafi’i berkata, “Barangsiapa mengklaim dirinya melihat Jin, maka kami menganggap syaha-datnya telah batal, kecuali jika dia seorang nabi.”29
Pendapat yang sama juga diikuti oleh Ibn Hazm Azh-Zhahiri ketikamengatakan, “Mereka (jin) bisa mellhat kita, tetapi kita tidak bisamelihat mereka, sebab Allah SWT telah berfirman, Sesungguhnya dia danpengikut-pengikutnya melihat kamu dari satu tempat yang kamu tidak dapatmelihat mereka (QS. Al-A’raf.- 27). Kalau Allah telah memberitakan ke-pada kita bahwa kita tidak dapat melihat mereka, maka barangsiapayang mengklaim diri telah melihat mereka, maka dia telah berdusta,kecuali kalau dia memang seorang nabi. Sebab, bagi para nabi, melihatjin adalah suatu mukjizat, sebagaimana yang ditetapkan oleh Rasulullahsaw., bahwa beliau juga digoda setan dalam upayanya menggagalkanshalat beliau.”30

Penjelasan tentang Masalah Tersebut:31
Saya bertanya kepada jin Muslim sahabat saya: “Bagaimana pen-dapatmu tentang melihat jin, apakah manusia bisa melihatnya?”

“Kabarnya, di antara kalian ada yang berpendapat bahwabarangsiapa yang mengatakan telah melihat jin, batallah syahadatnya,atau ditolaklah syahadatnya …… tanyanya kembali.
+ “Memang benar, itu adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i r.a.,”*jawab saya.

“Memang begitu. Akan tetapi apa yang disampaikan Allah SWTtidaklah menafikan kemungkinan melihatnya. Yang dimaksudkan disitu adalah bahwa pada prinsipnya memang begitu. Yang demikian ituadalah sesuatu yang wajar, yang sejalan dengan karakter tubuh kamiyang diciptakan oleh Allah SWT Kami adalah dunia yang dikehendakiAllah untuk tidak bisa dilihat dari alam manusia, tidak bisa didengardan disentuh, kecuali dalam beberapa hal yang didahului oleh ilmu-Nya. Yaitu, pemberitahuan tentang keistimewaan dunia ini, ataukemampuan khusus yang dengannya dia (jin) menjadi mudah me-lancarkan gangguan atau bergaul dengan manusia, tanpa manusia sen-diri, pada umumnya, memiliki kemungkinan untuk melihat mereka,kecuali dalam kondisi-kondisi yang sangat khusus.”
+ “Menurut hematmu, apa pengecualian tersebut?”

“Yakni ketika “Tadi sudah saya katakan, yakni ketika kami menampakkandiri dalam bentuk yang memang bisa dilihat, atau dalam keadaan sihir,atau minum air sihir, atau melalui kemauan jin itu sendiri untukmemperlihatkan diri, dan kondisi-kondisi tertentu yang di situ terpenuhisegala

syarat untuk bisa melihat kami.”32
+ “Apakah ada larangan terhadapmu untuk menjelaskan secararinci masing-masing kondisi tersebut, kemudian memberi sedikit kete-rangan yang bisa membuat orang-orang yang berakal menjadi paham,dan orang-orang yang bodoh menjadi tabu?”

— “Tidak, tidak ada larangan apa pun ……”


Melihat Jin Ketika Dia Menampakkan Diri Jin Muslim sahabat saya itu kemudian melanjutkan perkataannya:”Sesungguhnya Allah SWT telah menganugerahkan kepada kami suatukemampuan untuk mengubah diri dalam berbagai bentuk. Coba bacasurah Al-Anfal yang berbunyi, Dan ketika setan menjadikan merekamemandang baik pekerjaan mereka, seraya mengatakan, “Tidak ada seorangmanusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesung-guhnya aku ini adalah pelindungmu. ” Maka tatkala kedua pasukan itu telahdapat saling melihat, setan itu berbalik ke belakang seraya berkata, “Sesung-guhnya aku berlepas diri dari kamu, sesungguhnya aku dapat melihat apa yangkamu sekalian tidak dapat melihatnya. Sesungguhnya aku takut kepadaAllah, dan Allah sangat keras siksa-Nya” (QS. Al-Anfal: 48).
Kemudian dia menujukan pandangannya ke meja saya yang penuhbuku, dan berkata, “Coba ambilkan tafsirmu yang menjelaskan ayattersebut!”
+ “Ini Tafsir Ibn Katsir, dan yang itu Tafsir Al-Qurthubi.
Saya mengambil Tafsir Al-Qurthubi, lalu dia berkata, “Bacalah,bacalah tafsir ayat itu!”
Saya pun membacanya: “Diriwayatkan bahwa, setan pada hari itumenampakkan diri kepada mereka dalam bentuk Suraqah bin Malikbin Ju`syam. Dia berasal dari Bani Bakr bin Kinanah. Orang-orangQuraisy sangat takut bila Bani Bakr mengejar mereka. Sebab, merekatelah membunuh salah seorang warga Bani Bakr. Ketika dia telah me-nampakkan diri kepada mereka, dia lalu menyampaikan kabar yangdia katakan berasal dari Tuhan. Adh-Dhahhak mengatakan, “Padaperang Badar, datang Iblis dan pengikut-pengikutnya kepada mereka(kaum musyrikin) lalu membisikan ke dalam hati mereka bahwa mereka tidak akan terkalahkan, sebab mereka berperang membelaagama nenek moyang mereka.” Ibn ‘Abbas mengatakan, “Allah SWT membantu Nabi-Nya, Muhammad saw., dan kaum Mukmin denganseribu malaikat. jibril membawa serta lima ratus malaikat yang men-dampingi pasukan beliau di kiri dan kanan.

Disebut-sebut pula 40 Dialog dengan Jin Muslim bahwa jibril dan pasukannya itu merupakan satu peleton yang menghadang di salah satu ujung jalan, sedang Mika`il dengan lima ratus malaikatyang dipimpinnya mendampingi pasukan tersebut. Kemudian munculIblis di tengah-tengah pasukan setan, dengan membawa bendera. Diamenampakkan diri dalam bentuk seorang laki-laki dari Bani Mudlij dan setan dalam sosok Suraqah bin Malik bin ju’syam.

Setan itu berkata kepada kaum musyrikin, “Hari ini tidak akan ada yang mengalahkan kalian, sebab aku mendampingi kalian.” Ketika pasukan tersebutberbaris, Abu jahal berkata, “Tuhan, tolonglah kami dalam membelakebenaran, dan bantulah dia.” Di pihak lain Rasulullah saw. meng-angkat kedua tangannya dan berdoa, “Tuhanku, sesungguhnya jika Engkau hancurkan.,pasukan ini, maka Engkau tidak akan lagi disembah di muka bumi ini untuk selama-lamanya.” Mendengar itu jibril berkata, “Ambillah segenggam debu.” Maka, Rasulullah saw. pun meraupsegenggam tanah, lalu dihamburkannya ke arah kaum musyrikin,sehingga tidak ada seorang pun di antara mereka yang mata, teng-gorokan dan mulutnya tidak terkena serangan debu. Akibatnya, merekapun lari tunggang-langgang. Kemudian jibril menemui Iblis. Ketika jibril melihatnya, maka saat itu tangan Iblis sedang menggandeng salah seorang di antara kaum musyrikin. Kemudian dia melepaskantangannya dan lari bersama pengikut-pengikutnya. Laki-laki yang digandeng tangannya itu lalu berteriak kepadanya (Iblis), “Wahai Suraqah, bukankah engkau telah menyatakan untuk membantu kami?”Iblis menjawab, “Aku berlepas tangan dari kalian. Sesungguhnya akumelihat apa yang tidak kamu lihat.” Riwayat ini dituturkan oleh Al-Baihaqi dan perawi-perawi lainnya.”

Jin Muslim sahabat saya itu mengatakan, “Ini merupakan buktibahwa Iblis, yang termasuk kategori jin, itu bisa menampakkan diridalam bentuk seorang laki-laki yang memungkinkan dia bisa dilihatdan diajak berbicara. Bahkan dia menggandeng tangan manusia, danmengikat perjanjian bersama mereka. Dalam Shahih Muslim disebutkanadanya jin yang menampakkan diri dalam bentuk seekor ular, danmembunuh seorang pemuda yang mencoba membunuh ular tersebut.”

Karena dia menyebut-nyebut Shahih Muslim, maka saya pun segeramengambil kitab tersebut, lalu membacanya. Di situ saya temukanbahwa Abu As-Sa`ib menemui Abu Sa`id Al-Khudri di rumahnya. Ke-mudian dia menuturkan, “Ketika itu, dia (Abu Said Al-Khudri) sedangshalat, karena itu aku duduk menunggu hingga dia menyelesaikanshalatnya. Tiba-tiba kudengar suara gemerisik di ‘Urjun (lapisan pe-nyangga atap) rumahnya. Tiba-tiba saya -melihat seekor ular. Karenaitu saya berdiri dan bermaksud segera membunuhnya. Tetapi Abu Saidmengisyaratkan kepadaku agar aku tetap duduk. Aku pun kembaliduduk. Ketika dia telah menyelesaikan shalatnya, dia menunjuk salahsatu ruang di rumahnya, seraya berkata, “Engkau lihat kamar ini?”
Aku menjawab, “Ya.”
“Dulu di sini tinggal seorang pemuda yang baru nikah. Suatu kalikami pergi menuju Perang Khandaq bersama-sama Rasulullah saw.Pemuda itu pun meminta izin kepada Nabi untuk ikut berperanghingga tengah hari, dan pulang untuk menemui isterinya. Suatu haripemuda tersebut meminta izin kepada Nabi untuk pulang ke rumah-nya. Nabi saw. berkata kepadanya, “Bawalah senjatamu, sebab akukhawatir Bani Quraidhah akan mengganggumu.”
Pemuda itu mengambil senjatanya, kemudian pulang. Tiba dirumah, dilihatnya isterinya sedang berdiri di antara pintu rumah danpintu halaman. Terdorong oleh rasa cemburunya, dia segera meng-hambur dan mencoba menikam isterinya dengan tombak. Isterinyaberteriak, “Tahan tombakmu. Masuklah, dan lihatlah apa yang me-nyebabkan aku keluar rumah.”
Laki-laki itu pun masuk rumah, dan dilihatnya ada seekor ularbesar melingkar di tempat tidur. Dia membidikkan tombaknya ke arahular itu, dan mengenainya. Dia keluar rumah dan membiarkan ularitu tetap berada di dalam kamar. Tiba-tiba ular itu menyerang danmembelitnya. Mereka bergulat, dan entah siapa yang akan segera mati:Pemuda itu ataukah ular.
Abu Sa’Id Al-Khudri melanjutkan penuturannya, “Kemudian kamimendatangi Nabi saw. dan menyampaikan berita tentang pemuda itu.Kamm memohon kepada beliau, “Ya Rasulullah, mohonlah kepadaAllah agar dia bisa tetap hidup bersama kita.”Nabi saw. berkata, “Sebaiknya kalian memohonkan ampunankepada Allah untuk dia.” Sesudah itu beliau melanjutkan, “Di Madinahterdapat jin yang menyatakan diri telah masuk Islam. Kalau kalian melihat gelagat yang tidak baik dari mereka (jin-jin lain), maka panggillah dia selama tiga hari. Kalau sesudah itu ternyata membangkang, maka bunuhlah dia.Sebab, dia adalah setan’’34


“Seandainya pemuda itu menikam ular tersebut di tempat yangmematikan (sampai mati), niscaya dia tidak terkena musibah sepertiitu,” kata jin sahabat saya, “Sayangnya dia menangguhkannya. Inimerupakan peringatan dan pelajaran. Tetapi, bagaimanapun juga,hadis Muhammad saw. ini merupakan bukti tentang kemampuan jinmenampakkan diri dalam berbagai sosok.”
+
“Baiklah. Sekarang mari kita kembali pada persoalan kemam-puan jin untuk menampakkan diri. Sebab, aku punya interpretasi-interpretasi lain. Mari kita kembali kepada masalah kedua, atau kondisikedua yang menyebabkan jin bisa dilihat. Engkau mengatakan bahwa,kondisinya adalah kondisi sihir atau ketika seseorang meminum air sihir.”

“Betul, betul…. Dalam kondisi ini, jin bisa dilihat dengan mudah.”
+
“Tetapi saya perlu penjelasan lebih lanjut.”

“Benar. Dengan izin Allah, aku akan mengemukakan kepadamubeberapa hal yang tidak termaktub di kalangan kalian, dan tidak bisadiketahui kecuali dalam kondisi yang sangat, sangat khusus.”
+
“Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan yang lebih balk,sebab Allah telah berfirman, Dan kamu tidak dianugerahi ilmu kecuali sedikit.

Sumber : Dialog Dengan Jin Muslim

Note :

18. Sampai di sini jin Muslim sahabat saya itu,terus-menerus mencela manusia ,dengan menggunakan ungkapan, “Manusia suka ngawur,” dengan logat yang merupakan paduanantara logat orang India yang menetap di Makkah dan logat penghuni jazirah Arab. Diaselalu mengulang-ulang ucapannya yang berbunyi, “Manusia yang punya otak, manusiayang punya otak.” Saya mengajarinya bahwa seorang Muslim wajib memelihara ucapannya.Kalau tidak, kelak dia akan menerima akibat ucapannya, sebagaimana yang dikatakanoleh Rasulullah saw. Saya melarangnya mengucapkan kalimat-kalimat yang dengan seenaknya mencaci-maki bahwa manusia dan jin berada dalam neraka. Kemudian sayajelaskan kepadanya bahwa Allah SWT telah memuliakan Anak Adam dengan akal danpikirannya. Sungguh menarik mendengar dia kemudian mengatakan, “Ya Allah, jadikanaku manusia, jadikan aku manusia.” Tetapi ketika tahu bahwa manusia saling memperdaya satu sama lain, maka dia segera berkata, “Ah, saya tidak ingin menjadi manusia.”
Hendaknya pembaca yang budiman memahami bahwa saya tidak melihatnya dalam sosoknya yang sejati. Sebab, dia menyusup ke dalam diri seorang manusia, karena adanya kondisi-kondisi tertentu, dengan tujuan untuk melindungi dirinya dari kejaran segerombolansetan. Jasad yang ada di depan saya adalah jasad manusia, tetapi suaranya tetap suara jinMuslim. Dia sadar betul bahwa penampakan dirinya itu merupakan suatu pelanggaran. Akan tetapi karena darurat, maka hal itu diperbolehkan.

19. Tentang kemampuan jin untuk menampakkan diri dalam bentuk lain, akan dibicarakan pada tempatnya nanti.

20. Saya mengatakan, Subahanallah, sungguh benar Rasulullah saw. ketika mengatakandalam salah satu hadisnya yang diriwayatkan olch AI-Bukhari, dari lbn Wa’il, dariAbdullah bin Masud, katanya, “Disebutkan di hadapan Nabi saw. seorang laki-laki (yangtidak hadir saat itu). Lulu seseorang mengatakan, ‘Dia masih tidur hingga pagi tadi, dantidak Bangui untuk shalat.’ Nabi mengatakan, ‘Setan telah mengencingi telinganya.”‘Dalam Shahih Muslim, diriwayatkan sebuah hadis dari Ibn Masud r.a., katanya,”Disebutkan di hadapan seorang laki-laki yang tidur di malam hari hingga pagi. Nabisaw. niengatakan, ‘Orang itu dikencingi telinganya oleh setan,’ atau Nabi mengatakan,’Setan kencing di telinganya.’” Hadis ini diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Ibn Majah. IbnMajah mengatakan, “Tidak diragukan lagi, setan kencing di kedua telinganya.” Hadisserupa diriwayatkan pula olch Ahmad dalam Musnad-nya dari Abu Hurairah, katanya,”(Setan kencing) di telinganya, tidak diragukan dalam bentuk mufrad (tunggal), bukan dikedua telingany’r Di bagian akhir ditambahkan, “AI-Hasan mengatakan, ‘Kencingnya, demiAllah, sangat busuk sekali.’”
Dalam catatan pinggir kitab At-Targhib wa At-Tarhib karangan Imam AI-Mundziridicantumkan komentar Muhammad Khalil Haras yang mengatakan, “Diriwayatkan dariAI-Hasan secara mursal bahwasanya Nabi saw. berkata, ‘Apabila dia tidur (hingga pagiseperti itu), maka setan mengangkat salah satu kakinya, (Ian mengencingi telinga orang itu. ,” Lihat At-Targhib wa At-Tarhib, jilid I, Maktabah Al-Jumhuriyyah, Al-Azhar, Kairo, hlm. 570.
Terhadap hadis di atas Ibn Hajar Al-Asqallani memberikan komentar sebagai berikut:
Para ulama berbeda pendapat tentang kencing setan. Ada yang mengatakan bahwa setanmemang benar-benar kencing. Al-Qurthubi (Ian ulama lainnya berpendapat bahwa, tidakada salahnya mengartikan seperti itu. Sebab, memang telah terbukti bahwa setan makan,minum, dan kawin. Dengan demikian, tidak ada larangan untuk mengatakan bahwa diapun kencing. Ada pula yang mengatakan bahwa kalimat tersebut merupakan kiasan denganarti bahwa setan menutup telinga orang yang tidur dan tidak mau bangun untuk shalat,sehingga dia tidak dapat mendengar adzan. Pendapat yang lain mengatakan bahwapengertiannya adalah “setan mengisi pendengaran orang itu dengan berbagai kebatilan,sehingga telinganya tersumbat dan tidak dapat mendengar peringatan.” Pendapat yang

lain lagi mengatakan bahwa kalimat tersebut merupakan kiasan tentang perbuatan kotoryang dilakukan setan terhadap orang yang tidur itu. Ulama lain mengatakan bahwa pe-ngertiannya adalah, “setan menguasai dirinya dan menakut-nakutinya, sehingga seakan-akan seperti orang yang nyaris terkencing-kencing. Sebab, lazimnya, orang yang takut itubisa terkencing-kencing karena takutnya. Ada lagi yang berpendapat bahwa dia seperti orangyang lupa untuk bangun karena begitu lelap tidurnya, persis seperti orang yang dikencingitelinganya, sehingga telinganya menjadi berat dan rusaklah pendengarannya. Orang Arabmengkiaskan kencing dengan kerusakan. Ar-Rajiz mengatakan, “Suhail kencing di pagi hari,maka rusaklah pagi (oleh kencingnya).” Dengan itu dikiaskan tentang munculnya pagi,karena ia merupakan waktu rusaknya pagi. Dengan demikian, kerusakan itu dikiaskandengan “kencing”. Ibn Masud mengatakan, “Cukuplah keburukan dan kejelekan bagiseseorang yang tidur hingga pagi. Sebab, setan telah mengencingi telinganya.” Hadis inimawquf, tetapi sanadnya sahih. Ath-Thayyibi mengatakan, “Dalam hadis itu telinga disebutsecara khusus, sebab ia merupakan pintu yang paling mudah dimasuki (setan) dan palingcepat mengantarkannya hingga ke urat nadi, sehingga menimbulkan kemalasan di sekujurtubuh.” Lihat Fat-h Al-Bariy fi Syarh Shahih Al-Bukhariy, jilid III, hlm. 34-35.
Dari pembicaraan saya dengan Jin-Muslim sahabat saya itu, kita bisa memahami bahwatidur yang disertai dzikir kepada Allah dan disertai pula dengan niat untuk bangun gunamelaksanakan perintah Allah, merupakan dua hal yang dapat menolak setan yang men-datangi seorang Muslim, serta menyebabkan datangnya pertolongan Allah dalam me-nunaikan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan-Nya.
21. Di-takhrij oleh Malik dalam Al-Muwaththa’, dalam Kitab AI-Qur’an, hadis ke-44 dan 49. Hadisyang sama di-takhrij pula oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya, Ibn Majah dalamSunan-nya, dan Al-Baihaqi dalam Sunan-nya, diriwayatkan dari Abdullah Ash-Shunabiji.
22. Di-takhrij oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, dalam Kitab At-Tathawwu’, Bab X, dan An-Nasa’idalam Sunan-nya, dan Muslim dalam Shahih dalam hadis-hadis tentangorang-orang musafir.

23. Di-takhrij oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Bad’Al-Khalq.
Tentang pengertian “dua tanduk setan” ini, Imam An-Nawawi mengatakan, “Para ulamaberbeda pendapat tentang pengertian lahiriah dan hakiki lafal tersebut. Yang dimaksudkanadalah bahwa setan mengikutinya dengan kedua tanduknya ketika matahari terbenam.Demikian pula ketika matahari terbit. Sebab, saat itu orang-orang kafir bersujud kepadamatahari. Karena itu, setan menyertai terbit dan tenggelamnya matahari agar mereka(orang-orang kafir itu) sujud kepada matahari, padahal sesungguhnya mereka sujud kepadasetan. Setan mengkhayalkan pada dirinya dan pada diri pendukung-pendukungnya, bahwaorang-orang kafir itu sujud kepadanya. Ada pula yang mengatakan bahwa kalimat itumengandung pengertian kiasan (majazi), dan yang dimaksudkan “tanduk” atau “dua tanduksetan” adalah kehebatan, kesombongan, kekuasaan, kemampuan, dan pendukung-pendu-kung setan. Lihat Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawiy, juz IV, hlm. 124.
24. Di-takhrij oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya; Kitab Al-Adab, juz V, hlm. 415, dari Ibn Masudr.a., katanya, “Bunuhlah semua ular, kecuali jin putih, yang bentuknya seperti tongkatperak.” Ular putih merupakan penjelmaan jin Muslim yang sangat jarang ditemukan,seakan-akan ia merupakan tongkat perak. Terhadap riwayat ini, Al-Mundziri memberikomentar, “Hadis ini munqathi, sebab Ibrahim tidak pernah mendengarnya dari Ibn Mas’ud(tidak sezaman). Lihat, Sunan Abii Dawud, komentar ‘Izzat Abd Ad-Da’as, terbitan Suriah,1969. Dengan seluruh rasa hormat kita terhadap pendapat para pendahulu kita, yangkadang-kadang mengandung kemungkinan menafikan eksistensi jin yang menampakkandiri dalam wujud ular putih, Jin Muslim sahabat saya itu menyatakan tentang sahihnyariwayat ini. Seandainya pembaca dapat melihat cahaya matanya saat mengatakan, “Janganengkau bunuh ular tersebut. Cukup gertak saja, pasti dia menghindar, insya’Allah,” niscaya pembaca mengetahui bahwa apa yang dikatakannya adalah benar. Mata, dalam nisbatnya dengan jin adalah jendela makna yang terkandung dalam hati yang mengucapkannya, persisyang terjadi pada manusia. Dari sorot mata, seseorang dapat menangkap petunjuk tentangbenar tidaknya apa yang dikatakan seseorang.
25,. Berubahnya ether menjadi materi bukanlah sesuatu yang mustahil. Ilmu pengetahuan modern telah membuktikannya. Sir Arthur Stantley Eddington dalam bukunya Watah Dunia Fisika mengatakam, “Ether bukanlah sejenis materi, dan bukan pula materi. Kendati demi-kian, ether yang bukan materi ini dapat mengubah dirinya menjadi materi melalui senyawa-senyawa yang sulit diketahui. Sesuatu yang semula tidak mempunyai dimensi ini, melaluisenyawa dengan beberapa unsur lainnya, akan menjadi materi tertentu yang bisa di-timbang.” Pendapat ini sejalan dengan alam jin, baik dari segi hakikatnya maupun dalamkemampuannya menampakkan diri dalam bentuk materi yang dapat dilihat dan diraba.

26.
Pada bagian yang akan datang nanti, insya’Allah, masalah ini,akan saya jelaskan secara rinci. Perlu saya ingatkan bahwa ketidakmampuan manusia melihat jin, bagaimanapun, merupa-kan bukti rahmat Allah kepada manusia. Sebab, seandainya manusia mempunyaikemampu-an untuk melihat makhluk gaib yang lalu-lalang dan menghuni semua tempat ini, niscaya manusia dapat melihat setiap cahaya, dan mencium semua bebauan yangtersebar di sekitar dirinya, serta mendengar semua suara yang keluar dari setiap sumbersuara. Dengan semuanya itu, manusia pasti tidak sanggup memikul beban yang mematikan tersebut. Sebab, di antara cahaya-cahaya yang terdapat di alam semesta ini ada jenisjenis cahaya yang sangat mematikan, dan juga ada yang dapat membakar hangus benda-benda basah.
27.
Harb Al-Kirmani men-takhrij hadis dalam kitabnya yang berjudul AI-Masa’il, dari Abu Hurairah, dari -Rasulullah saw., yang mengatakan, “Janganlah salah seorang di antaramuberjalan dengan satu terumpah, sebab setan berjalan dengan satu terumpah pula.” LihatAs-Suyuthi, Luqath Al-Marjan fi Ahkim Al-Jan, diedit oleh Mushthafa Abd Al-Qadir ‘Atha, Dar Al-Kutub Al-’Ilmiyyah, Beirut. Jin-Muslim sahabat saya juga mengakui hal ini. Diamenegaskan sahihnya hadis ini. dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi saw. melarang berjalan dengan satu terumpah, bila terumpah yang satunya lagi putus, sampai ia di-perbaiki.
Alam

28. Tafsir Al-Qurthubiy, hlm. 2622.
29. Dikemukakan oleh Ibn Hajar M-Asqallani dalam Fat-h Al-Bariy, juz VI, hlm. 396.
30. Muhammad ibn Hazm Azh-Zhahiri, Al-Fishhal fi Al-Milal wa An-Nihal, juz V, hlm. 12.

31. Ibn Hajar A]-Asqallani mengatakan, “Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqillani mengatakan bahwa sebagian kaum Mu`tazilah mengatakan bahwa jin itu adalah jasad halus dan sederhana. Menurut hemat saya (AI-Baqillani) hal itu mungkin-mungkin saja, bila memang ditegaskan oleh wahyu.” Abu Ya’la ibn AI-Farra’ mengatakan, “Jin adalah jasad yang terdiri dari beberapa unsur dan berbentuk, yang bisa saja sangat halus dan bisa pula kasar, berbeda dengan pendapat Mu`tazilah yang mengatakan bahwa jin adalah makhluk halus. Kefidak-mungkinan kita untuk melihatnya karena halusnya, adalah keliru. Sebab, halusnya suatu materi tidak menjadi halangan untuk bisa dilihat. Benda-benda kasar bisa juga tidak terlihat oleh mata kita, manakala Allah tidak menciptakan alat bagi kita untuk dapat melihatnya.” Lihat Fat-h Al-Bariy fi Syarh Shahih Al-Bukhariy, juz VI, hlm. 396.
Ibn Hajar Al-Asqallani memberikan komentar terhadap pendapat Imam Syafi`i dengan mengatakan, “Ini (yang dikatakan Imam Syafi`i) sangat mungkin terhadap orang yang mengklaim sebagai melihat jin dalam bentuk mereka sebagaimana mereka diciptakan. Sedangkan orang-orang yang mengatakan telah melihat mereka (jm) sesudah mereka mengalami perkembangan dalam bentuk hewan, misalnya, maka hal itu tidak mengapa. Sebab, berbagai riwayat telah mengatakan tentang perubahan-perubahan bentuk mereka.” Ibid.

32. Jin-Muslim sahabat saya mendukung pendapat Imam Asy-Syaukani yang mengatakanbahwa, “Sebagian ulama menggunakan ayat ini (Sesungguhnya mereka dan pengikutnyame-lihat hamu dari arah yang kamu tidak dapat melihat mereka) sebagai dalil bahwa melihat setanitu tidak mungkin. Padahal dalam ayat tersebut tidak ada isyarat yang menyatakandemikian. Pengertian ayat tersebut adalah bahwa Iblis melihat kita dari tempat yang kitatidak melihatnya, dan bukan berarti bahwa kita tidak bisa melihatnya untuk selamanya.Takterlihatnya mereka oleh pandangan kita saat mereka melihat kita, sama sekalitidak mengharuskan ketidakmungkinan setan atau jin untuk dilihat.” Lihat Tafsir Fat-hAl-Qadir, AI-Babi Al-Halabi, juz II, hlm. 197.

33. Tafsir Al-Qurthubiy, hlm. 2865. Ini bukan merupakan kasus yang pertama bagi Iblis. Sebab, sebelumnya dia pernah menampakkan diri dalam bentuk seorang laki-laki dari Nejd pada saat orang-orang Quraisy berkumpul di Dar An-Nadwah, sebelum Hijrah, guna membahas persoalan yang menyangkut diri Rasulullah saw. dan mengatur strategi untukmenghadang kepergian beliau. Iblislah yang menyarankan agar mereka mengumpulkanpemuda-pemuda yang gagah berani dari setiap kabilah untuk mengepung Muhammad saw.dan membunuhnya beramai-ramai, sehingga penuntutan balas atas kematiannya bisamereka pikul ber-sama. Ada yang mengatakan bahwa yang menyampaikan saran seperti ituadalah Abu Jahal, sedangkan Iblis adalah “orang” pertama yang mendukungnya denganmengatakan, “Pendapat terbaik adalah apa yang dikatakan orang ini (Abu jahal).” Lihat IbnHisyam, Sirah An-Nabawiyyah,jilid II.

34. Shahih Muslim,,”Kitab Qatl AI-Hayat wa Ghairaha.” Hadis yang sama juga di-takhrij oleh Malik dalam Al-Muwaththa’, “Kitab Al-Isti’dzan.” Dalam riwayat Muslim pada bab yangsama, di-sebutkan bahwa Abu As-Sa’ib mengatakan, “Kami menemui Abu Sa’id Al-Khudri r.a. Ketika kami sedang duduk, tiba-tiba kami,mendengar suara berisik di bawah tempattidurnya, lalu kami mencarinya, dan ternyata di situ terdapat seekor ular ….. (Kemudian diamelanjutkan penuturannya sebagaimana yang terdapat dalam hadis di ‘atas). Dalamhadis itu dikatakan, “Di dalam, rumah-rumah itu terdapat penghuni-penghuni (jin), maka jika kamu sekalian melihat sesuatu, maka usirlah tiga kali. Kalau ia pergi, biarkanlah.Tetapi jika ia membandel, maka bunuhlah, Sebab ia pasti jin kafir.” Selanjutnya Nabimengatakan pula, “Pergilah kalian, dan kuburkanlah sahabat kalian itu.”
Masih menurut riwayat Muslim, dikatakan bahwa Rasulullah saw. Berkata, “Di Madinah terdapat sekelompok jin, dan mereka telah menyatakan diri masuk Islam. Kalau salahseorang di antara kalian melihat sesuatu (yang mencurigakan), maka mintalah ia pergi.Tetapi kalau ia tetap membandel maka bunuhlah ia. Sebab dia adalah setan.”
Dalam Syarah-nya terhadap Shahih Muslim, Imam An-Nawawi mengatakan bahwa Al-Mazari mengatakan, “Jangan kalian bunuh ular-ular yang ada di Madinah, kecuali sesudahkalian mengingatkannya terlebih dulu, sebagaimana yang terdapat dalam hadis. Kalauengkau sudah mengingatkan dan ia tetap membandel maka bunuhlah. Sedangkan ular-ular yang terdapat di kota selaih Madinah, yakni yang ada di tanah, rumah dan tempat-tempat tinggal, maka dianjurkan untuk membunuhnya tanpa harus terlebih dulu mem-beri peringatan, berdasar pengiertian umum yang terdapat dalam hadis-hadis sahih tentang perintah membunuhnya. Di dalam hadis-hadis tersebut ditegaskan, “Bunuhlah ular-ular,” dan di dalam hadis yang lain dikatakan pula, “Ada lima binatang yang boleh dibunuh,baik ketika dalam keadaan ihram maupun tahallul,” salah satu di antaranya adalah ular. Disitu tidak disebut-sebut keharusan untuk mengingatkannya terlebih dulu. Dalam hadis yangmenerangkan tentang ular yang keluar di Mina, dikatakan bahwa Nabi saw.memerintahkan membunuhnya, tanpa menyebut-nyebut peringatan sebelumnya, dan tidakdisebut-sebut pula bahwa para sahabat memberikan peringatan terlebih dulu. Para ulamamengatakan, “Maka berdasar hadis-hadis tersebut diperbolebkanlah membunuh ular secara umum, dengan mengkhususkan ular-ular yang ada di Madinah, yang mestidiperingatkan terlebih dulu, berdasar hadis yang berkaitan dengan itu. Alasannya secarategas disebutkan pula dalam hadis itu. Yakni adanya sekelompok jin di Madinah yang sudah masuk Islam. Sebagian ulama berpegang pada pengertian umum yang ada dalamlarangan membunuh ular-ular yang ada di dalam rumah di semua negeri sebelummemberinya peringatan terlebih dulu. Sedangkan ular-ular yang tidak berada dalam rumah, boleh dibunuh tanpa diberi peringatan terlebih dulu.” Malik mengatakan, “Bolehmembunuh ular-ular yang berada masjid.” Sementara itu, Al-Qadhi Al-Baqillani mengatakan, “Sebagian ulama berpendapat bahwa perintah membunuh ularmengandung-pengertian umum,sedangkan larangannya berlaku khusus atas ular-ular yang merupakan penjelmaanjin-jin yang ada dalam rumah, kecuali Al-Abtar dan Dzu Ath-Thifyatain. Kedua jenis ular ini boleh dibunuh dalam semua keadaan, baik ketikakeduanya berada di rumah-rumah maupun di luar rumah. Sebab, kalau tidak begitu, tentunya kedua jenis ular tersebut tidak disebutkan sesudah adanya peringatan.” Selanjutnya Al-Qadhi Al-Baqillam mengatakan, “Adalah mernipakan kekhususan dari Nabi untuk membunuh Al-Abtar dan Dzu Ath-Thifyatain di antara ular-ular yang menghuni rumah-rumah. Wallahu A`lam.” Sedangkan bentuk peringatan yang harus diberikanadalah sebagai berikut: Al-Qadhi Al-Baqillani mengatakan, Ibn Habib meriwayatkan dariNabi saw., bahwasanya beliau berkata, “Aku ingatkan kalian dengan janji yang telah kalianbuat bersama Sulaiman bin Dawud bahwa kalian tidak akan menyakiti kami dan tidak pulamemperlihatkan diri kepada kami.” Sementara itu, Malik mengatakan, “Cukuplah jikadikatakan kepadanya, ‘Aku ancam engkau dengan nama Allah dan hari akhir, hendaknyaengkau tidak memperlihatkan diri kepadaku, dan jangan pula menggangguku.”‘ BarangkaliMalik mengambi lafal “Aku ancam” yang terdapat dalam hadis terdahulu, sebagai dasarbagi peringatan tersebut, yang terdapat dalam Shahih Muslim yang berbunyi, “Danperingatkanlah mereka tiga kali.” Wallahu A’lam. Lihat Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawiy,Juz V, hlm. 230.

 

Tentang agendamerah

me, just a person wanna get some fun
Leave a comment

Posted by pada Februari 24, 2012 in Iblis

 

Di "Like" & Comment Yuk

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.154 pengikut lainnya.