Seringkali dilontarkan oleh kenalan kita pertanyaan “apa sih manfaat belajar Martial Art (beladiri)? jaman sekarang udah ga musim belajar MA”
saya kadang sempat bingung, apa saja manfaat belajar MA(martial art)?
masa iya cuma buat berantem?

setelah saya renungkan ternyata banyak sekali yang bisa didapatkan dari belajar Martial Art itu sendiri……
beberapa yang saya ingat,
1. Kesehatan
belajar beladiri itu sama dengan olahraga, dan manfaat olahraga itu sangat banyak (apalagi jika belajar pernafasan ), dengan seringnya berolah raga maka sistem kekebalan tubuh yang menghalang penyakit untuk masuk ke tubuh kita akan semakin kuat!
selain itu juga Fisik kita akan terbentuk, kita pun akan bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan berat karena dengan fisik yang dilatih, begadang 2 hari ga tidur pun resiko sakit akan semakin kecil
bahkan dengan pernafasan pun kita bisa membantu menyembuhkan diri sendiri dari penyakit atau orang lain yang sakit (seperti taichi)
di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat
maksud jiwa disini adalah kekuatan hati kita, tentu dalam belajar MA tidak semudah belajar main game…
perlu ketekunan, kedisiplinan, dan tekad besar untuk dapat menjadi seorang praktisi MA……
- kita perlu tekad untuk melawan rasa malas dalam berlatih
- perlu kedisplinan agar rutin berlatih
- perlu ketekunan yaitu dimana kita melawan jenuh melakukan latihan
ketekunan, kedisiplinan, dan tekad besar yang terbentuk dari latihan inilah yang akan berguna di kehidupan sehari-hari kita….
Tanpa disadari dari latihan yang tekun, disiplin, dan dengan tekat kuat telah menempa jiwa kita ke arah yang lebih baik.
dan selanjutnya hal-hal yang dilatih diatas lah yang membawa kita kedalam kesuksesan di kehidupan sehari-hari kita….
3. mengendalikan diri
sebenarnya ini adalah bagian dari jiwa, namun karena memiliki penjelasan tersendiri jadi saya pisahkan
coba bayangkan bagaimana bosannya kita melakukan jurus-jurus yang sama, kadang merasa ingin berontak, ingin berhenti, kadang muak dari latihan itu sendiri. Justru proses berat tersebut sebenarnya adalah pelatihan pengendalian emosi yang sangat tepat………..
Selain itu, dengan melalui semua proses itu lah kita sebenarnya sedang belajar mengendalikan…
dengan berkonsentrasi hanya pada jurus2 saat latihan(membuang segala hal bersifat duniawi), inilah yang mendisiplinkan otak agar kita agar bisa mengendalikan pikiran pada tempatnya, serta membantu mengontrol hawa nafsu kita sendiri
poin penting dalam belajar beladiri adalah kita bisa mengontrol diri kita, mengontrol nafsu dan emosi kita, sehingga menjadi insan yang lebih baik dari kita yang sebelumnya.
4. spiritualis
pengalaman saya belajar beladiri dalam sisi spiritualis adalah,
saya menyadari bahwa jurus-jurus beladiri yang ada mengalir sesuai hukum alam….
dimana kekerasan dilawan dengan kelembutan
semakin kita lembut menyambut serangan musuh yang keras, dan kita bisa mencari celah untuk mengalirkan energi musuh ke arah lain….
(prinsip syahbandar jika di silat atau prinsip taichi dan aikido)
saya menyadari bahwa dari prinsip jurus ini sendiri bisa diambil hikhmahnya
dalam menghadapi serangan-serangan serta tekanan dalam kehidupan kita, tidak bisa kita lawan dengan kekuatan, yang terjadi? siapa yang kuat dia yang menang, sama-sama kuat berarti sama2 hancur……kita yang lemah kita yang hancur….
yang benar adalah dengan mengikuti aliran tekanan, eit!
bukan berarti kita pasrah, kita bertahan, diam dalam menghadapi tekanan tanpa melawan terang2an, kita mencari celah yang ada untuk dapat kita bertindak sesuai syariat-syarian agama kita (kalo saya sesuai syariat Islam) untuk mengarahkan musuh kita ke arah yang benar tentunya dengan kelembutan kasih sayang……..
dan itu hanyalan salah satu contoh dari sisi hikmah yang saya temukan dalam beladiri………
jika saya post kebanyakan takutnya praktisi-praktisi disini pada bosen
selain itu prinsip padi semakin berisi semakin menunduk
pun secara tidak lansung tertanamkan pada diri saya……..
dari perjalanan proses latihan yang berat dan panjang serta proses dikalahkan-melihat praktisi MA lainya yang lebih tangguh bahkan yang sangat tangguh……..
membuat saya semakin berpikir ternyata walau saya sudah belajar banyak jurus, saya tetaplah bukan apa-apa……
Semakin saya tahu teknik membunuh dan melumpuhkan, saya pun menyadari bahkan saya bisa saja dikalahkan oleh anak SMP, karena walau kuat sebenarnya manusia sangat lemah, sekuat-kuatnya diri kita, pasti ada peluang dimana kita dapat terkalahkan, dan pada kenyataannya bahwa beladiri itu hanyalah alat bertarung seperti pisau atau pistol…..
jadi saya pun tak bisa sombong mentang-mentang saya belajar beladiri karena saya tahu bahwa saya bukan apa-apa……….
dengan menyadari bahwa beladiri adalah “alat” seperti pisau atau pistol
bukan semakin sok jagoan dan semakin unjuk gigi, namun justru saya semakin takut untuk sok jagoan, semakin takut untuk pamer kekuatan,
gimana bisa sok jagoan kalo tau “alat” yang saya punya bisa membahayakan nyawa makhluk hidup lain dan keselamatan diri sendiri (dunia akhirat)….
kesadaran bahwa saya hanyalah manusia biasa (sepandai2nya belajar beladiri kita tetaplah amnusia yang punya kelemahan, bayangin aja kalo kamu berantem sama anak SMP udah PD2nya menang eh tiba2 “anu” mu ditendang , TKO jadinya), dan beladiri yang saya punya adalah alat yang bisa mencelakakan ini justru malah menjauhkan saya dari pertengkaran dan keributan.
masih banyak hal-hal yang telah merubah hidup saya dari beladiri ini….
saya pun sedang mencoba memahami apa yang artinya mengikhlaskan hidup…
entah mengapa semakin sering saya berlatih saya makin ikhlas tentang hidup-mati saya kepada Allah dan sekarang saya sedang mencari jawabannya, mungkin jika suda saya temukan akan saya post………
Antara said:
Kolonel Dave Grossman, seorang pendidik ilmu militer dalam bukunya “On Combat” (PPCT Publishing, 2007) menyitir sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa ternyata manusia juga memiliki spesialisasi genetik seperti yang dimiliki serangga. Kalau kita melihat bahwa di dunia serangga terdapat penggolongan alami masyarakat menjadi golongan ratu, pejantan, pekerja dan prajurit… hal yang saya berlaku juga di manusia.
Penelitian itu menyebutkan bahwa sekitar 2% dari manusia dilahirkan dengan catatan genetik untuk menjadi golongan prajurit, yaitu orang-orang yang secara alami akan tertarik pada kegiatan yang berbau kekerasan, perang dan segala pernak-perniknya, meskipun tidak seperti serangga yang perbedaan fisik antara pekerja dan prajurit terlihat jelas. Sedikitpun ini bukan kesalahan, ini sama saja seperti orang-orang yang secara alami tertarik pada tari, bahasa, rekayasa (engineering), bisnis dan banyak lagi.
Penelitian ini menyebutkan bahwa orang yang pada dasarnya bukan prajurit, perlu pelatihan mental khusus untuk bisa berperang dengan baik. Di banyak kasus yang diteliti di berbagai perang sejak abad 19, ditemukan bahwa banyak prajurit yang gugur tanpa sempat menembakkan senjatanya, semata-mata karena mereka tidak sanggup membidik dan membunuh sesama manusia. Ini tidak berlaku untuk orang yang terlahir sebagai prajurit… mereka pembunuh efektif yang alami dan bahkan menikmati kegiatan tersebut. Buat mereka, senapan dan pisau adalah benda seni yang indah yang kerap dielus dan disayang, ilmu berkelahi adalah seni yang memiliki nilai yang dalam yang perlu ditekuni sampai ke cakrawala yang tak terbatas. Itulah panggilan jiwa.
Jadi kalau di masa kecil dulu kita beramai-ramai masuk silat, dan ketika teman-teman kita beramai-ramai pula pindah ke bidang lain sementara kita beberapa gelintir masih menikmati berlatih silat… maka itu memang cetak biru di dalam sel-sel yang kita bawa. Tuhan atau alam (tergantung kepercayaan kita) memang sudah menentukan demikian.
“Follow every rainbow till you find your way”
Tinggal pertanyaannya buat kita-kita yang tidak berkarir di dunia prajurit, bagaimana supaya naluri dasar itu menjadi pendukung di kehidupan yang kita jalani… bukan malah jadi penghalang.
Tingkatan Tujuan Seseorang Belajar Beladiri
Beladiri pada saat ini bukanlah dianggap sebagai alat untuk mempertahankan diri dari keadaan genting tapi cenderung lebih ke arah gaya hidup.
Banyak yang belum tahu sama sekali tentang apa itu beladiri, kebanyakan orang awam hanya melihatb beladiri sebagai teknik untuk berkelahi… walau kenyataannya seperti itu namun beladiri itu sangat dalam dan banyak fungsinya sesuai tujuan…
Banyak juga alasan orang mempelajari beladiri mulai dari ingin menjadi kuat, sekedar hobi, prestasi, bahkan jalan hidup. Namun untuk tujuan berbeda akan menghasilkan hasil yang berbeda…
Sebenarnya beladiri memiliki banyak sekali philosophy kehidupan yang bisa dijadikan sebagai pegangan hidup atau pencarian makna hidup.. inilah yang dicari oleh orang yang menghayati jalan beladiri..

Tahapan belajar beladiri adalah mulai dari
mengenal : dimana kita mulai tau seperti apa beladiri itu dalam bayangan kasar
mempelajari: kita mulai mempelajari dasar dan bentuk beladiri tersebut dan seperti apa
menekuni: disini adalah tahapan dimana kita melatih apa yang sudah kita pelajari berkali-kali
mencintai: dimana kita sudah sangat menyukai dan nyaman dalam mempelajari dan menekuni beladiri yang kita miliki
menghayati: dimana seluruh philosophy kehidupan dan inti dari beladiri tersebut berusaha kita resapi dalam diri
Sedangkan tahap pribadi seseorang dalam belajar beladiri adalah sebagai berikut
1. untuk melukai orang lain
2. untuk menunjukan kebanggan diri/ kekuatan diri.
3. untuk menjadi yang terkuat
4. untuk menjaga kedamaian
5. untuk menjadi tujuan hidup
6. mencari pencerahan
Sayangnya kebanyakan mereka yang menekuni beladiri hanya sampai pada tahap mempelajari dan untuk kebanggan diri

Beladiri sendiri dalam tujuan umum dibagi menjadi dua yaitu SPORT dan TRADISIONAL, dimana ;
Beladiri SPORT bertujuan untuk meraih prestasi tentunya ada jurus-jurus atau gerakan yang dihilangkan dan dilarang sehingga jika digunakan maka akan berakibat pelanggaran. Karena itulah dalam pelatihannya beladiri SPORT memang ditujukan untuk bertarung mengikuti aturan-aturan yang berlaku, untuk memenangkan pertandingan, bukan memenangkan pertarungan.
Sedangkan beladiri tradisional lebih mengutamakan ke jalan hidup, yang dipelajari masih gerakan-gerakan untuk melumpuhkan, membunuh dan menghabisi, namun pada tingkatan tertinggi pada beladiri tradisional kita akan diarahkan untuk bersatu dengan alam dan mencapai pencerahan karena tujuan beladiri tradisional adalah sebagai jalan hidup.
Wanita Belajar Beladiri
Wanita perlu belajar beladiri ? Mengapa tidak? Beladiri dengan segala jenisnya sudah ada dari jaman dahulu kala, bahkan pada jaman Rosul sudah terdapat beberapa wanita muslimah yang ikut berjihad mengangkat pedang, misalnya Ummu Athiyyah yang tujuh kali ikut perang pada masa Rosul, Nasibah Al Maziniyyah, menjadi srikandi pada perang Uhud, Arrobi’ binti Muawwidz dan lain-lain. D iera awal Thifan Po Khan juga terdapat banyak pendekar muslimah, sebut saja misalnya Lulu Tan yang ahli dalam bermain selendang, pendekar-pendekar lainnya juga sering ikut dalam medan pertempuran bersama pendekar lainnya.
Jumlah pendekar wanita memang tidak sebanyak pendekar laki-laki, baik di era dahulu maupun era sekarang. Di era sekarang bisa kita lihat, misalnya data peserta di Olimpiade Atlanta 1996, ada 26 negara peserta yang tidak mengirim atlet putri.Jumlah negara tersebut berkurang pada Olimpiade Sydney 2000, yakni hanya sembilan negara yang tidak menyertakan atlet putri. Di Sydney pula jumlah atlet putri mencapai 4.063 orang atau 38,2 persen dari total jumlah atlet keseluruhan. Di Athena 2004 kehadiran atlet putri bertambah menjadi 4.306 orang atau 40,7 persen dari total atlet yang ikut serta. Jumlah terbesar sepanjang sejarah. Dari dari di atas secara umum menunjukkan bahwa memang jumlah pegiat olah raga termasuk beladiri lebih diminati oleh pria dibandingkan wanita.
Mengapa hanya sedikit wanita yang menyukai beladiri? Menurut penelusuran penulis, belum ada jawaban yang komprehensif terhadap permasalah ini. Mungkin salah satu hal yang mendasar adalah karena wanita secara psikologis maupun fisiologis lebih menyukai sesuatu yang halus, lembut, mengutamakan perasaan. Selain itu bagi wanita muslimah, mereka mengalami kesulitan ketika akan mengikuti beladiri karena terbatasnya beladiri khusus muslimah. Padahal dari segi manfaat, beladiri selain untuk menjaga kesehatan, menambah stamina juga sangat berguna untuk menjaga diri dari bahaya, karena menurut Catatan Tahunan Komnas Perempuan, setiap tahun jumlah kekerasan kepada wanita selalu meningkat, tahun 2001 setidaknya terjadi 3.169 kasus dan pada tahun 2007 jumlah kasus meningkat menjadi 25.522 kasus.
Untuk meningkatkan minat wanita mempelajari beladiri, selain memberikan penyadaran tentang pentingnya beladiri, juga perlu perubahan paradigma bahwa beladiri selalu identik dengan kekerasan. Beladiri dapat merubah formatnya sesuai dengan kebutuhan orang yang mempelajarinya, misalnya Thifan Po Khan, dari jaman awal sudah terdapat lanah (tempat latihan) khusus wanita muslimah. Di dalam lanah ini, yang diajarkan adalah beladiri Thifan Po Khan khusus muslimah, gerakan jurus, senam dan lain-lain disesuaikan dengan karakteristik wanita, dengan metode ini maka akan tercetak wanita yang ahli beladiri tetapi tetap memiliki sifat kelembutan seorang wanita dan tidak merubah fisik wanita menjadi perkasa atau gagah seperti pria.

Bela Diri Untuk Mengalahkan Diri Sendiri
Setiap manusia pasti mempunyai sistem pertahanan diri sendiri, secara tidak sadar saat kita merasa terancam pasti kita akan melawan dan karena itulah sejak zaman dahulu kala manusia sudah mengenal bela diri sebagai sebuah sistem pertahanan yang dikembangkan baik untuk membela diri dari ancaman ataupun sebagai usaha untuk menyerang dengan berbagai motif yang melatar belakanginya.
Dan kalau kita perhatikan disetiap negara ataupun lingkungan pasti mempunyai ciri khas bela diri yang mempresentasikan daerahnya. Di cina kita mengenal kungfu atau wushu, di jepang kita mengenal karate, di dunia barat kita mengenal tinju dan di Indonesia sendiri kita mengenal pencak silat sebagai budaya leluhur bangsa ini. Dan setiap bela diri itu mempunyai ciri khasnya masing-masing, di barat lebih mengutamakan kekuatan dikarenakan kondisi fisik mereka yang besar-besar dan di cina lebih mengutamakan kecepatan dan ketepatan, ya semuanya itu dikarenakan kondisi lingkungan mereka yang berbeda-beda.
Tapi tahukan sahabat semuanya bahwasanya setiap beladiri sebagian besar mempunyai misi tertentu, terutama tentang falsafah yang melatar belakangi ideologi bela diri tersebut. Karena itulah sebagai seorang muslim alangkah baiknya kita mempelajari ilmu beladiri sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri. Terutama sikap posisi tangan yang terkadang melambangkan ideologi agama tertentu, bukan berarti kita anti dalam mempelajari ilmu beladiri yang lain yang jelas kita harus bisa lebih selektif dengan sesuatu yang berbeda dengan akidah kita sebagai seorang muslim.
Dan sebagai muslim alangkah baiknya kita mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari fikriyah kita, ruhiyah kita dan jasadiyah kita agar semuanya seimbang karena Islam mengajarkan ketawadzunan dalam hidup ini karena apabila salah satunya timpang maka yang terjadi adalah ketidakstabilan diri. Kalau orang terlalu mengandalakan fikriyahnya yang terjadi adalah keanehan dalam berpikir dan mempertuhankan ilmu pengetahuan ataupun logikanya, kalau orang terlalu mengandalkan ruhiyahnya yang terjadi adalah soleh sendiri dan kurangnya interaksi antar sesama manusia, kurangnya amal nyata yang harus dilakukan oleh umat Islam sekarang ini untuk berdakwah. Dan kalau terlalu mengandalkan jasmaninya yang terjadi adalah menjadi orang sok jagoan dan merasa paling kuat, menyelesaikan segala sesautunya dengan fisik. Karena itulah sudah sepatutnya kita tawadzun dalam segala hal, kita memberikan asupan fikriyah kita dengan cara banyak membaca dan belajar di sekeliling kita, kita memberikan asupan ruhiyah kita dengan beribadah kepada Allah SWT dengan cara yang benar yang sudah dicontohkan oleh Rasul kita, Shalat, tilawah dll. Dan kita memberikan asupan jasadiyah kita dengan cara riyadoh bisa dengan lari atau joging maupun mempelajari ilmu beladiri yang sesuai dengan akidah kita sebagai muslim.
Dan yang coba saya soroti disini adalah lebih kepada jasadiyah kita teruama mempelajari beladiri yang sesuai dengan Islam. Kalau kita mempelajari siroh nabi sebenarnya kita harus paham bahwasanya Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya adalah orang-orang yang kuat, bayangkan mereka berperang dengan kondisi gurun pasir yang panas, menerjang teriknya matahari demi tegaknya kalimatullah, bahkan di bulan puasa pun Rasul dan sahabatnya harus berperang. Tapi mereka adalah hamba Allah yang kuat dalam segi ruhiyah, fikriyah dan jasadiyahnya. Bahkan dalam sebuah siroh Nabi Muahmmad SAW harus melewati gurun pasir yang panas dengan baju besinya yang berat dan itu membuktikan betapa kuatnya kondisi fisik beliau. Karena itulah dalam sebuah hadis Allah lebih menyukai hambanya yang kuat dari pada hambanya yang lemah.
Bayak motif ataupun latar belakang seseorang dalam mempelajari beldiri, tapi apapun latar belakang awalnya saat dia mempunyai dan mulai menguasai bela diri tersebut dia pasti akan merasa lebih kuat dan bahkan siap kalau-kalau ada kondisi yang dia harus mengeluarkan ilmu tersebut. Tapi yang harus dicamkan adalah jangan sampai kita merasa uzub ataupun takabur karena banyak orang yang lebih terampil dan hebat dari kita. Istilahnya diatas langit masih ada langit lagi yang lebih tinggi, ada sebuah pepatah mengatakan “kita memeng bukan murid/tamid terbaik tapi kita adalah murid/tamid terampil” yang kalau kita pahami berarti kita harus berusaha untuk mempelajari ilmu bela diri ini dengan sungguh-sungguh akan tetapi masih banyak orang yang lebih hebat dari pada kita.
Dan satu yang harus dipahami lagi adalah kita belajar beladiri bukan untuk mengalahkan orang lain tapi mengalahkan diri sendiri. Karena yang paling berat adalah mengalahkan ego ataupun hawa nafsu kita karena ingin mengalahkan orang lain, sebenarnya kita dikatakan kuat apabila kita mengalahkan ego tersebut. Terkadang kita terlalu reaktif apabila ada seseorang yang merasa ancaman bagi kita padahal ancaman itu hanyalah sebatas verbal dan tidak mejadi masalah yang besar jikalau kita menghadapinya dengan bijak dan kepala dingin. Cobalah kita ambil filosofi binatang tsufuk/wolverine yang ada di siberia, binatang itu jika merasa terancam oleh musuhnya dia tidak terlalu reaktif hanya diam sambil mengamati gerak-gerik musuhnya dan ketika musuhnya itu datang barulah binatang tsufuk itu menyerangnya bahkan bisa membunuhnya.
Selain itu manfaat yang saya rasakan dari belajar beladiri adalah selain tentunya kebugaran fisik yang terjaga ternayata melatih kepercayaan diri kita. Kepercayaan yang dibatasi oleh sikap yang efektif dan tidak berlebihan. Semoga saja kita adalah orang yang diberi kemampuan untuk tawadzun dalam segala hal baik itu fikriyah, ruhiyah dan jasmaniyah kita agar semuanya sesuai dengan koridor yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya.
Sumber : Internet



![Livorno I (The Tuscany Series) [Explore] Livorno I (The Tuscany Series) [Explore]](http://static.flickr.com/7245/7327014798_46a6694fa2_t.jpg)


